Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

ANTO SUICIDE 

Artikel
Home Up My Interest Artikel
Line2.gif (403 bytes)


Woodstock:
Sejarah Telah Berakhir

    RED Hot Chili Peppers -kelompok musik yang namanya terasa "pedas" sekali- mengakhiri Woodstock 99 yang berlangsung tiga hari (23-25 Juli 1999) di Griffiss Park, Rome, sekitar 50 menit dari New York, dengan kobaran api berikut kerusuhan. Tadinya, sebagian orang mengira api yang mulai menyala ketika Red Hot Chili Peppers naik panggung, Minggu (27/7) tengah malam itu sebagai reaksi spontan dari penonton merespons kembang api yang dinyalakan di panggung. Hanya saja, tiba-tiba pagar pembatas ikut terangkat, dan dibuang ke kobaran api.
    Dalam sekejap, api membesar di beberapa tempat. Ketika polisi dan petugas pemadam kebakaran mencoba mengatasi suasana, mereka malah dilempari botol dan batu. Massa kemudian merobohkan menara lampu, menjungkirkan mobil, truk-truk penjual makanan serta cendera mata dan merampok isinya.

    HURU-hara ini segera menjadi berita utama di koran-koran Amerika. Dia menarik perhatian bukan karena kualitas huru-haranya, melainkan juga ironi yang melekat padanya. The Burning Question at Woodstock '99 (Pertanyaan menyala di Woodstock '99), tulis The Washington Post, Atau Mayhem Called Betrayal of Spirit of '69 (Kekacauan itu Mengkhianati Semangat '69), tulis New York Daily News. Mereka seolah tak ingin percaya, bahwa Woodstock yang selalu diasosiasikan dengan "perdamaian, harmoni," atau diserukan Carlos Santana dalam sebuah lagunya sebagai tranquilty (kedamaian, ketenangan), telah berubah menjadi tindak kekerasan dan vandalisme.
    Baiklah, ada baiknya diingat kembali apa sebetulnya Woodstock. Tahun 1960-an, di tengah frustasi kalangan muda Amerika terhadap Perang Vietnam, kemuakan terhadap kemapanan berikut rasionalitas industrialisasi Barat, anak-anak muda lari ke filosofi Timur, buku-buku dan gagasan metafisika, psychedelics (zat perangsang), musik rock, dan obat bius (waktu itu yang populer LSD).
    Musik rock mengkonsolidasikan mereka dalam semangat solidaritas, dalam ilusi ingin mengubah dunia menjadi dunia yang damai, semua ras dan suku bertetangga, seperti keniscayaan hidup yang dilagukan The Beatles lewat Yellow Submarine.
    Tiga puluh tahun lalu, tepatnya 15, 16, 17 Agustus 1969, sekitar satu juta anak muda berkumpul di sebuah festival musik yang diselenggarakan di perladangan milik Max Yasgur di daerah miskin serta terpencil di dekat New York, bernama Bethel.
    Mereka mendirikan kemah-kemah, menghisap obat bius, dan tentu saja "make love" (slogan mereka yang terkenal memang "make love not war" -bercinta, bukan perang-). Tujuan kehidupan adalah mentransendensikan kebosanan hidup sehari-hari, dimana dengan berbagai cara -termasuk obat bius, seks, musik- hendak dicapai kondisi ekstase.
    Ketika waktu berlalu, romantik kehidupan masa yang bergolak tahun 60-an makin tertinggal jauh di belakang, Woodstock diingat bukan sekedar sebagai festival musik dengan pahlawan-pahlawannya seperti Jimi Hendrix, Janis Joplin, Joe Cocker, Carlos Santana; melainkan sebagai sebuah state of mind mengenai perdamaian, kebebasan, sikap antikemapanan.
    Entah bagaimana mulanya, tahun 1994, muncul kembali gagasan pada Mike Lang yang menjadi motor penyelenggaraan Woodstock tahun 1969, untuk kembali mengadakan festival semacam ini sekaligus untuk memperingati 25 tahun Woodstock. Saat itu, agaknya memang ada kerinduan besar untuk menghidupkan kembali kenangan pada masa 60-an.
    Woodstock II yang berlangsung di Saugerties, New York, boleh dibilang sukses, menyedot lebih dari 300.000 pengunjung. Di situ tampil nama-nama besar seperti Joe Cocker, Carlos Santana, Peter Gabriel, Metallica, Aerosmith, dan lain-lain.
    Betapapun, saat itu sinisme terhadap penyelenggaraan Woodstock sudah muncul di mana-mana. Woodstock tidak lagi dianggap sebagai perayaan perdamaian, kebebasan, dan sikap antikemapanan seperti berlangsung 25 tahun sebelumnya, melainkan "perayaan perdaganagan kapitalis".
    Memang demikianlah adanya. Berbeda dibanding tahun 1969 yang serba kekurangan, para pengunjung kedinginan di tengah hujan, tak ada makanan.
    Woodstock tahun 1994 adalah ajang bisnis perusahaan-perusahaan multinasional. Apa saja ada, dari pizza sampai ice cream, dari T-shirt sampai CD. Biaya penyelenggaraan waktu itu 33 juta dollar (atau sekitar Rp 70 milyar dengan hitungn kurs waktu itu). Bagi pengunjung, panitia menyiapkan dua juta galon air, 800 bus, 2.800 toilet portable, serta perlengkapan-perlengkapan logistik lain.

    MUNGKIN ketagihan pada keuntungan yang melimpah dari "bisnis kenangan" itu, Juli tahun 1999 ini diselenggarakan Woodstock III di Rome, New York. Kembali biaya penyelenggaraan dianggarkan sekitar 30 juta dollar berikut sponsor terdiri dari berbagai perusahaan multinasional. Jangan takut kehabisan uang. Di tempat itu telah dipasang pos-pos ATM. Harga tiket perorangan 150 dollar (sekitar Rp. 1 Juta), belum termasuk pajak.
    Pemusik yang tampil kali ini antara lain Aerosmith, Metallica, Alanis Morisette, Sheryl Grow, Los Lobos, Sugar Ray, Willie Nelson, Red Hot Chili Peppers, dan lain-lain.
    Hanya saja, sejarah Woodstock sebenarnya telah berakhir. Tak ada lagi common ground berupa "isme" seperti perdamaian dan harmoni yang tiga puluh tahun lalu mempertautkan anak-anak muda dalam solidaritas dan perdamaian. Meminjam rumusan pemikir kebudayaan global Francis Fukuyama: "sejarah telah berakhir". Atau dalam rumusan pemikir yang lain lagi, Kenichi Ohmae, kondisi sekarang tidak lagi ditentukan oleh "isme", oleh ideologi, oleh state of mind, melainkan oleh desire, nafsu dan keinginan untuk mengkonsumsi.
    Kontrol ideologi, kontrol yang didasarkan atas kesamaan pandangan seperti pandangan terhadap perdamaian dan semacamnya, hanyalah omong kosong sekarang. Buktinya adalah Woodstock yang menjadi "lautan api itu".

*) disarikan dari: Harian Kompas